2 Entrepreneur Ini Sulap Sampah Sisa Jadi Barang Berkelas serta Jadi Kaya Raya 

Jadi entrepreneur memanglah tidak mesti mempunyai modal yang besar. Bahkan juga sebagian salah satunya malah bisa membuat bisnis kerajinan tangan daur ulang yang menguntungkan tanpa ada menggelontorkan modal sedikitpun. 

 

Satu diantara kunci yang dapat Kamu kerjakan yaitu dengan memakai apa yang ada, umpamanya saja barang sisa. Terlebih orang-orang Indonesia sekarang ini masih tetap menilainya mata sebelah apa yang diberi nama barang sisa. 

 

Untuk mereka, barang sisa sama juga seperti sampah. Tetapi di tangan sebagian entrepreneur, barang sisa malah dapat disulap jadi aset bernilai yang memberi mereka omzet sampai beberapa ratus juta rupiah. 

 

Bukan sekedar itu, debut mereka juga dapat berkompetisi dengan beberapa pelaku bisnis beda yang telah mapan. Bahkan juga product yang mereka olah dari barang sisa telah diperjual-belikan sampai ke beragam negara. 

 

Indotrading. com berhasil mewancarai 4 orang entrepreneur yang berhasil melakukan bisnis dari barang sisa. Siapapun mereka? di bawah ini yaitu penjelasannya, Rabu (26/10/2016). 

 

1. Diah Rahmalita 

 

Diah Rahmalita (47) yaitu yang memiliki usaha Lita Art. Bisnisnya ini bergelut di bagian interior design dengan konsentrasi paling utama yaitu sediakan pernak-pernik barang yang ditempelkan kertas tisu lantas memberi lukisan unik. Dia mengatakannya dengan nama decopatch. 

 

Pergi dari hoby, Lita mulai usaha ini di th. 2007 dengan modal cuma Rp 1 juta. Decopatch sendiri di buat dengan memakai beberapa barang sisa, umpamanya piring, gelas sampai botol beling. 

 

Pernah sangsi tekuni usaha kerajinan barang bekas barunya ini, Lita pada akhirnya pilih terjun lebih dalam. Dengan kekuatan melukis yang ia punyai, Lita memoles beberapa barang sisa barusan jadi barang kerajinan yang cantik serta pas jadi hiasan dan pajangan tempat tinggal. 

 

Lita pada akhirnya pilih resign dari pekerjaannya jadi karyawan swasta di th. 2011. Argumennya ia menginginkan konsentrasi membuat bisnisnya. Di th. yang sama, ia juga empat kesusahan mencari pelanggan serta pasar. 

 

Tetapi dengan sistem yang cukup panjang, decopatch punya Lita pada akhirnya dilirik oleh pemerintah daerah setempat. Lita pada akhirnya mulai memperoleh pertolongan serta service tuntunan dan diberi akses pasar yang cukup luas dengan ikuti beragam arena pameran dengan gratis. 

 

Dengan cara itu, usaha decopatch punya Lita mulai berkembang serta berkembang. Ia berhasil menghadirkan beragam barang pajangan unik yang di buat dari barang sisa. Produknya di jual dari harga Rp 20 ribu hingga juta-an rupiah. 

 

Akhirnya, Lita saat ini dapat memperoleh omzet teratur Rp 20 juta per bulan. Bukan sekedar laris di jual didalam negeri, decopatch punya Lita juga telah laris di jual ke beragam negara di lokasi Asia serta Eropa seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, India, China, Hungaria, Bulgaria, Kroasia, Turki, Swiss, hingga Italia. 

 

Keindahan design dan komposisi gambar serta warna yang cocok buat beberapa produk decopatch semakin banyak disukai. Banyak konsumen yang berdatangan dari beragam kota. Biasanya, konsumen product decopatch ini didominasi oleh kaum wanita. Walau sebenarnya, Diah tidak mempunyai toko. Ia mengakui cuma mempunyai showroom serta workshop di Malang. 

 

2. Made Sutamaya 

Made Sutamaya (49) yaitu yang memiliki usaha Kioski Gallery. Pria asal Kuta, Bali ini berhasil memakai tumpukan sampah kayu sisa yang berantakan di tepi pantai. Lewat Kioski Gallery, Made berhasil menyulap sampah kayu jadi design interior bernilai juta-an rupiah. 

 

Kreasinya mulai dihitung di jagad usaha kerajinan yang berada di Indonesia. Made juga dapat berkompetisi dengan beberapa entrepreneur yang memiliki pengalaman dengan menghadirkan beragam karya interior design yang kreatif serta unik dan mempunyai kesan elegan. 

 

Sempat bekerja cukup lama di satu diantara perusahaan furniture buat Made semakin yakin diri membuat bisnisnya di th. 2003. Pada akhirnya beragam karya interior design seperti meja, kusi, kaca rias sampai lampu berdiri ia hasilkan serta berhasil di tawarkan pada beberapa pelanggannya didalam negeri. 

 

Made Sutamaya mengungkap, mulai usaha Kioski Gallery termasuk gampang-gampang susah. Tujuannya yaitu usaha ini dibuat tanpa ada modal besar. Menurut Made modal awal yang dia pakai untuk membuat usaha ini cuma tumpukan sampah kayu, paku serta palu. 

 

Made yang cuma jebolan Sekolah Menengah Atas (SMA) ini menjelaskan apabila sampah kayu sering ia peroleh dari tepi pantai. Ia juga menerangkan umumnya ketika musim hujan, sampah kayu terikut arus air menuju laut. Kemudian, sampah kayu terombang-ambing ombak hingga pada akhirnya berantakan di tepi pantai. 

 

Sesudah kayu-kayu itu dirakit, Made lalu mendesain dan membuat kayu jadi beragam jenis jenis perkakas tempat tinggal yang akan jadikan interior design. Umpamanya meja, kursi, kaca, lampu dan sebagainya. Waktu sistem perakitan sendiri, Made umumnya memakai paku atau lem kayu. 

 

Sesudah jadi, produknya di jual dengan harga rata-rata Rp 6 juta. Walau di buat dengan memakai kayu sisa, ia dapat meyakinkan konstruksi kayu tetaplah kuat. Bahkan juga beragam jenis product design interior yang dibuatnya dari kayu sisa ini diklaim awet hingga beberapa puluh th.. 

 

Usaha Made makin berkembang dari th. ke th.. Made juga sudah berhasil membuat pasar diluar negeri. Produknya telah diperjual-belikan di sebagian negara Uni Eropa, seperti Belanda, Jerman, Italia serta Prancis sampai ke Afrika. 

 

Disamping itu bicara mengenai omzet yag didapat, Made dapat memperoleh Rp 300 juta/bulan. Terkecuali mempunyai omzet yang cukup besar, Made juga menyabet beberapa penghargaan top. Salah nya ialah Parama Karya Award 2015 dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).